Advertisement

Review Novel Philophobia, Ketika Jatuh Cinta adalah Trauma

 Philophobia adalah salah satu novel fiksi karangan Sappe. Penerbitnya adalah CV. Putra Surya Sentosa. Latar belakang dari kisah utama dalam novel ini mengambil suasana Kampus. Masa-masa di mana cinta pada pandangan pertama mulai tumbuh bermekaran. Pemilihan latar belakang ini yang membuat novel tersebut menarik karena dirasa sesuai dengan keadaan para pembacanya. 

Philophobia, Ketika Jatuh Cinta adalah Trauma

Philophobia

Salah satu keunggulan dari novel Philophobia adalah membahas tentang kondisi psikologi seseorang yang jarang dibahas. Kondisi tersebut adalah Philophobia dimana seseorang yang menderitanya memiliki ketakutan berlebihan akan perasaan jatuh cinta. Hal ini menyebabkan penderitanya merasa tidak bisa atau bahkan mustahil untuk jatuh cinta.

Bila membaca novel Philophobia ini, Anda akan mendapatkan hiburan sekaligus ilmu pengetahuan berkat masalah utama yang diangkat. Tidak hanya menambah ilmu akan suatu kondisi psikologi tertentu, tapi Anda juga akan memahami bagaimana perasaan orang yang mengalaminya. Termasuk juga di dalamnya terdapat langkah yang harus dilakukan untuk bisa menghadapi orang tersebut.

Cerita dalam novel ini bermula dari pensil pembawa cinta. Latar belakang kampus yang menjadi lokasi utama novel ini membuat ceritanya dirasa semakin relate dengan keadaan nyata. Dua tokoh utama di dalam novel ini berada dalam dua jurusan yang berbeda yang menjadi awal dari kisah mereka. Meski berasal dari jurusan berbeda, namun keduanya merasa memiliki kecocokan satu sama lain.

Akibat dari perbedaan jurusan ini, dua tokoh utama dalam novel Philophobia malah bisa saling menghargai satu sama lain. Namun selama menjalani kisah cinta, cerita keduanya tidak mudah. Selain jurusan, ternyata mereka juga memiliki penghalang tinggi untuk bisa bersama. Tidak adanya restu dari kedua keluarga menjadi penghalang tertinggi untuk ia bisa bersatu dengan Friska 

Baca Juga : Stop Toxic Productivity! 

Banyak kejadian-kejadian yang membuat keduanya harus menelan pil pahit dalam menjalani kisah cinta. Rasanya mereka memiliki kecocokan di setiap bagian, namun akibat perbedaan keyakinan membuat mereka tidak bisa bersatu. Perjuangan mereka menghadapi segala penghalang ternyata berbuntut kacau. Mereka harus berpisah dan menjauh, puncaknya terjadi di saat wisuda berlangsung.

Saat itu, Friska menghadiri wisuda bersama dengan sang tunangan yang sesuai dengan keinginan kakeknya. Pada saat yang bersamaan, hati keduanya terasa hancur dan seakan dunia berhenti berputar. Namun mereka sadar bahwa kehidupan tidak berhenti saat itu karena hal tersebut. Mereka tetap harus melanjutkan hidup walau terasa kosong dan hampa saat menjalaninya.

Oleh sebab itu tokoh utama laki-laki merasa harus bangkit dari keterpurukannya. Ia tidak bisa terus menerus berada dalam kondisi seperti saat ini. Salah satu caranya untuk bisa memulai kehidupan yang baru adalah mulai mencari kesibukan setelah wisuda usai. Saat sedang mencari pekerjaan, ia ditawari seorang kepala sekolah kenalannya untuk menjadi pembina ekskul.

Namun ia merasa pekerjaan itu tidak cocok untuknya, sehingga setelah berpikir panjang dengan berat hati ia menolak tawaran tersebut. Disaat sedang putus asa, ia mulai menulis sebuah blog pribadi yang berisi tentang cerita-ceritanya. Ia merasa menulis bisa menjadi salah satu cara untuk mengalihkan perhatian dari segala permasalahan di hidupnya.

Selama proses menyembuhkan diri dengan menulis, tokoh utama laki-laki mendapatkan sebuah email dari pembacanya. Dalam surat elektronik tersebut tertuang beberapa kisah-kisah yang ternyata bisa menjadi penyemangat dalam hidupnya. Ia pun sering membalas surat elektronik tersebut karena lewat surat tersebut ia seperti memiliki teman untuk berbagi keluh kesah kehidupan. 

Tidak terasa pembicaraan melalui media elektronik itu terus berlanjut hingga pada pertemuan pertama. Pertemuan pertama antara tokoh utama laki-laki dan penulis email ini sangat berkesan. Hubungan mereka layaknya dua sahabat yang telah lama tidak bertemu. Hingga pada akhirnya identitas asli Anin sebagai si pengirim email diketahui. 

Anin adalah seorang gadis remaja yang masih duduk di bangku sekolah menengah. Kala itu tokoh utama laki-laki sadar sedari lama bahwa perasaan nyaman yang ia rasakan terhadap Anin bukanlah cinta. Meski terus menerus salah tingkah bahkan begitu menemukan blog Anin, namun perasaannya hanya menganggap Anin sebagai sahabat atau adik. 

Di saat yang bersamaan ketika sedang bersama Anin, tokoh utama laki-laki bertemu dengan seorang wanita. Wanita yang ia temui kali ini memiliki paras cantik dan hati yang baik. Wanita itu bernama Dian. Kecocokan kembali dirasakan seperti ketika bersama dengan Friska dahulu. Namun kali ini tokoh utama laki-laki lebih percaya diri karena tidak ada perbedaan keyakinan diantara mereka. 

Atas dasar kepercayaan diri itulah akhirnya ia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Keberanian itu timbul setelah melalui pendekatan yang tidak sebentar dan ia percaya pada Dian lah ia mulai membuka hatinya lagi. Tidak disangka ternyata gayung bersambut, perasaannya diterima oleh Dian. Keduanya pun menjalin kisah cinta yang dipenuhi dengan lika-liku rasanya.

Seakan lupa oleh kisah masa lalunya bersama Friska, tokoh utama laki-laki menjalani kisah cinta yang Bahagia bersama Dian. Bahkan rencananya mereka akan mulai maju untuk tahap yang lebih serius. Itu semua berkat pertanyaan Dian untuk kapan bisa kerumahnya. Bersama-sama mereka menghadapi satu persatu permasalahan hidup dengan cara ada untuk satu sama lainnya. 

Layaknya pasangan pada umumnya, mereka berkencan dengan jalan berdua sekedar makan hingga menonton konser musik. Rasanya benar-benar tokoh utama laki-laki ingin melabuhkan hatinya pada Dian. Hingga suatu hari masalah timbul diantara mereka berdua. Dua kepala yang berisi pemikiran berbeda mulai menemukan perbedaannya, pertengkaran akhirnya tidak bisa dihindari.

Baca Juga : Review Jatuh Cinta

Pertengkaran kecil yang bisa diperbaiki kini seperti kenangan, karena pertengkarannya rasanya lebih besar lagi. Sampai pada akhirnya, keduanya memutuskan untuk berpisah akibat rasa lelah yang timbul setelah pertengkaran-pertengkaran tersebut. Masing-masing diantara keduanya tidak saling menghubungi satu sama lain. Hanya kenangan demi kenangan yang ada saat ini.

Tokoh utama laki-laki merasakan trauma yang hebat; setelah Friska ia telah melabuhkan hatinya pada Dian, dan kini kembali ditinggalkan. Rasa takut akan jatuh cinta kini dirasakannya lebih dalam lagi, bahkan hingga membuatnya depresi. Perjalanan kisah cintanya tidak ada satupun yang berhasil sampai saat ini. Lagi-lagi ia merasa hampa karena ditinggalkan.

Meski merasa trauma yang mendalam, ia tetap merasa harus melanjutkan perjalanan hidupnya. Kisah cintanya boleh berakhir, namun hidupnya masih tetap berlanjut. Ia kembali bangkit untuk siap menjalani berbagai petualangan terbaru dalam kehidupannya. Namun ia kini memiliki trauma dan mengalami Philophobia: keadaan di mana jatuh cinta membuat ia trauma.

Manfaat Membaca Novel Philophobia

Membaca buku apapun, mulai dari yang ringan hingga berat memiliki banyak sekali manfaat. Salah satunya adalah dengan banyak membaca maka keterampilan bahasa akan meningkat tajam. Selain bahasa, perbendaharaan kosakata juga semakin bertambah banyak. Itu berarti Anda dapat menguasai tidak hanya bahasa tapi juga tata bahasa dan kosakatanya.

Tidak hanya itu, secara psikologis, membaca novel ternyata juga dapat membantu mengurangi atau menghilangkan stress seseorang. Hal tersebut dikarenakan ketika membaca, otomatis pikirannya akan teralihkan dari masalah-masalah yang sedang dihadapi. Selain itu, membaca juga bisa menjadi salah satu cara memberikan inspirasi serta kreativitas dalam berpikir dan mengambil keputusan.

Dalam novel fiksi seperti Philophobia, di dalamnya ada banyak karakter yang beragam sifat serta permasalahannya. Karakter tersebut dimaksudkan sebagai representasi dari kehidupan yang sesungguhnya. Sehingga ketika dalam dunia nyata seseorang benar-benar dihadapkan dalam posisi serupa, ia akan mampu menghadapi dan memahami keadaan tersebut.

Posting Komentar

0 Komentar