The Logical Fallacies, Ternyata Selama Ini Kita Sering Salah Berpikir tanpa Sadar

Daftar Isi

Saya punya kebiasaan kalau sudah suka satu buku tentang psikologi atau cara berpikir, saya akan terus mencari buku serupa. Sudah baca tentang bias kognitif, tentang pengambilan keputusan, tentang cara otak bekerja. Dan suatu hari saya menemukan The Logical Fallacies karya Siti Nur Indasah —buku yang membahas sesuatu yang lebih spesifik: kesalahan-kesalahan logika yang kita buat setiap hari, bahkan saat kita merasa sedang berpikir kritis.

Subtitle-nya langsung menarik perhatian saya: Kesalahan Berlogika yang Dianggap Berpikir Kritis. Artinya, bukan hanya soal orang yang tidak bisa berpikir logis tapi soal orang yang merasa sudah berpikir logis, padahal tidak. Dan itu, jujur, terasa seperti tamparan yang saya butuhkan.

Apakah buku ini memenuhi janjinya? Saya akan cerita jujur di sini  termasuk jenis-jenis fallacy yang membuat saya bengong karena tidak pernah tahu nama formalnya, padahal sudah sering mengalaminya.

The Logical Fallacies adalah buku non-fiksi yang diterbitkan Anak Hebat Indonesia pada 2023. Siti Nur Indasah mengupas konsep logical fallacy kesalahan dalam penalaran logis  yang sering terjadi akibat asumsi yang keliru, bias yang tidak disadari, atau cara berargumen yang cacat.

Buku ini terdiri dari lima bab: pengantar tentang berpikir kritis, jenis-jenis fallacy beserta contoh kasusnya, cara menyusun argumen yang benar, latihan mengenali dan mengoreksi kesalahan logika, serta hubungan antara logical fallacy dan kemampuan berpikir kritis. Setiap fallacy dijelaskan dengan tiga lapisan: teori, contoh kasus nyata, dan cara mengantisipasinya.

Yang membuat buku ini relevan di era sekarang: contoh-contoh kasusnya diambil dari situasi sehari-hari yang sangat familiar — perdebatan di media sosial, percakapan di kantor, bahkan cara kita berbicara dengan diri sendiri.

1. Jenis-Jenis Fallacy yang Belum Pernah Saya Dengar  Bagian Terbaik

Ini yang paling membuat saya tidak bisa berhenti membaca. Saya kira sudah cukup familiar dengan kesalahan logika  ad hominem, strawman, slippery slope. Ternyata ada jauh lebih banyak jenis fallacy yang selama ini saya lakukan atau alami tanpa tahu namanya.

Beberapa yang paling mengejutkan saya:

 

Narcissist Fallacy

Asumsi bahwa orang lain selalu memperhatikan atau memikirkan kita secara berlebihan  padahal kenyataannya tidak.

Contoh: "Dia tersenyum saat berpapasan denganku. Pasti karena penampilanku hari ini membuatnya terkesan."

False Dilemma Fallacy

Menyederhanakan situasi menjadi hanya dua pilihan padahal sebenarnya ada banyak kemungkinan lain.

Contoh: "Kalau kamu tidak ikut demo ini, berarti kamu tidak peduli sama sekali dengan nasib rakyat."

Bandwagon Fallacy

Menganggap sesuatu benar atau baik hanya karena banyak orang melakukannya atau mempercayainya.

Contoh: "Semua orang pakai produk skincare ini dan hasilnya bagus, pasti ini yang terbaik."

Appeal to Authority Fallacy

Menerima klaim sebagai kebenaran hanya karena diucapkan oleh sosok yang dianggap otoritas, tanpa memverifikasi kebenarannya.

Contoh: "Artis ini bilang suplemen ini bagus untuk kesehatan, pasti benar karena dia terkenal."

Yang membuat bagian ini luar biasa: setelah membaca setiap fallacy, saya langsung teringat momen di mana saya sendiri pernah melakukannya — atau menjadi korbannya. Buku ini bukan hanya mendidik, tapi juga membuat kita lebih humble tentang cara berpikir kita sendiri.

2. Contoh Kasus Sangat Relate, Sangat Indonesia

Salah satu keunggulan terbesar buku ini adalah pemilihan contoh kasusnya. Siti Nur Indasah tidak mengambil contoh dari debat filsafat Barat yang jauh dari kehidupan kita. Ia mengambil situasi yang sangat familiar: komentar di media sosial, perdebatan keluarga, argumen teman sebaya, bahkan inner monologue yang kita lakukan dalam kepala sendiri.

Ini penting karena membuat konsep yang secara teori cukup abstrak menjadi sangat konkret dan mudah dipahami. Kamu tidak perlu background akademis untuk menikmati buku ini  cukup punya pengalaman hidup sebagai manusia sosial yang pernah berdebat atau membuat asumsi.

Satu hal yang saya apresiasi: penulis juga mencantumkan banyak referensi. Ini menandakan riset yang serius di balik penulisan buku ini — bukan sekadar opini pribadi yang dikemas sebagai buku.

3. Gaya Penulisan  Ringan untuk Topik yang Berat

Membahas logical fallacy bisa sangat kering dan membosankan kalau tidak dikemas dengan baik. Siti Nur Indasah berhasil menjaga keseimbangan antara kedalaman konten dan keterbacaan. Bahasanya ringan, tidak terlalu akademis, dan sesekali menggunakan nada yang hangat dan tidak menghakimi.

Dengan 208 halaman dan format per-bab yang jelas, buku ini bisa dibaca secara non-linear kamu bisa langsung lompat ke jenis fallacy yang ingin dipelajari tanpa harus membaca dari awal. Ini nilai plus untuk pembaca yang sibuk.

Satu catatan kecil: karena buku ini mencakup banyak jenis fallacy sekaligus, beberapa di antaranya terasa dibahas sedikit terlalu singkat. Untuk fallacy yang lebih kompleks, saya ingin penjelasan dan contoh yang lebih mendalam.

The Logical Fallacies adalah buku yang saya rekomendasikan untuk siapapun yang ingin berpikir lebih jernih bukan hanya dalam debat atau diskusi formal, tapi dalam kehidupan sehari-hari. Di era media sosial di mana kesalahan logika bertebaran di mana-mana, buku ini hadir sebagai panduan untuk tidak mudah tergiring opini dan tidak mudah tertipu oleh argumen yang terdengar masuk akal tapi sebenarnya cacat.

Bagian jenis-jenis fallacy adalah yang paling berkesan buat saya bukan hanya karena informasinya baru, tapi karena setiap fallacy terasa seperti cermin yang menunjukkan pola pikir keliru yang selama ini tidak saya sadari.

Cocok untuk kamu yang:

      Suka buku psikologi, filsafat, atau cara kerja otak manusia

      Sering mengikuti debat atau diskusi di media sosial dan ingin lebih kritis

      Ingin berpikir lebih jernih dan tidak mudah tergiring opini

      Guru, mahasiswa, atau siapapun yang bekerja di bidang komunikasi dan argumentasi

Mungkin kurang cocok jika kamu:

      Mencari penjelasan akademis yang sangat mendalam dan teknis tentang logika formal

      Mengharapkan setiap fallacy dibahas dengan sangat detail dan panjang

Membaca The Logical Fallacies membuat saya sadar satu hal: berpikir kritis bukan kemampuan yang otomatis kita miliki hanya karena merasa sudah dewasa atau berpendidikan. Ia perlu dilatih, dan salah satu cara melatihnya adalah dengan mengenali jebakan-jebakan logika yang selama ini tidak kita sadari.

Buku ini adalah langkah pertama yang sangat baik untuk perjalanan itu. Dan setelah membacanya, saya jamin cara kamu membaca komentar di media sosial  atau bahkan cara kamu berdebat dengan diri sendiri  tidak akan pernah sama lagi.

Yuk, diskusi bareng!

Sudah pernah baca buku ini? Atau ada fallacy tertentu yang paling sering kamu temui di kehidupan sehari-hari? Cerita di komentar  saya penasaran fallacy apa yang paling sering bikin kamu geleng-geleng kepala! 👇

Kalau artikel ini bermanfaat, share ke teman yang suka debat di media sosial. Siapa tahu ini jadi pengingat untuk kita semua agar lebih jernih sebelum berkomentar.

Cappuccino English
Cappuccino English Cappuccino English adalah blog yang membahas materi pembelajaran bahasa Inggris dan semua yang berkaitan dengan bahasa Inggris.

Posting Komentar