Review Be Happy! Be Positive! Karya Irfan Suryana
Bagus untuk Pemula,
tapi Apakah Cukup untuk yang Sudah Sering Baca Self-Help?
Jujur,
awalnya saya beli buku ini hanya karena judulnya. Be Happy! Be Positive! —
sederhana, langsung, dan entah kenapa terasa seperti kalimat yang memang sedang
saya butuhkan saat itu. Tidak ada rekomendasi dari siapapun, tidak ada review
yang saya baca sebelumnya. Murni karena judulnya nyangkut di kepala.
Dan
ternyata keputusan impulsif itu tidak saya sesali. Buku ini lebih dari sekadar
judul yang catchy.
Pernahkah
kamu merasa sudah melakukan segalanya dengan benar, tapi hidup tetap saja tidak
berjalan sesuai rencana? Usaha yang sudah susah payah dibangun tiba-tiba
runtuh. Nilai yang diharapkan jauh dari ekspektasi. Orang yang kamu percaya
malah mengecewakan. Di titik itu, satu kalimat sering muncul di kepala:
"Apa gunanya terus mencoba?"
Saya
rasa hampir semua dari kita pernah berada di titik itu. Dan mungkin itulah yang
membuat buku Be Happy! Be Positive! karya Irfan Suryana terasa relevan — buku
ini hadir seperti teman yang menepuk bahu kamu dan bilang, "Hei, pikiran
negatifmu bukan musuhmu, tapi kamu yang punya kendali."
Tapi apakah buku ini benar-benar menjawab kebutuhan itu? Atau sekadar kumpulan kata-kata motivasi yang enak dibaca tapi tidak meninggalkan jejak? Saya baca tuntas dan akan jujur sepenuhnya di sini.
Sinopsis Singkat
Be
Happy! Be Positive! adalah buku self-help yang diterbitkan Anak Hebat Indonesia
pada Agustus 2024. Irfan Suryana mengangkat premis sederhana namun kuat: bahwa
pikiran negatif adalah hambatan terbesar yang sebenarnya bisa kita kendalikan
sendiri.
Buku
ini membahas bagaimana manusia secara alami cenderung mengeluh, meragukan diri,
bahkan berputus asa ketika dihadapkan pada berbagai tekanan hidup — mulai dari
kegagalan bisnis, PHK, nilai buruk, hingga patah hati. Irfan tidak menyangkal
bahwa hal-hal ini menyakitkan. Justru ia memulai dari sana: mengakui bahwa rasa
sakit itu nyata, sebelum kemudian mengajak pembaca untuk melihat sisi lain dari
setiap kejatuhan.
Inti
pesannya adalah bahwa Sang Pencipta telah membekali setiap manusia dengan
kemampuan untuk bangkit dan berpikir positif. Kemampuan itu tidak hilang —
hanya sering terlupakan. Buku ini bertugas mengingatkan kembali.
1. Pesan dan Tema — Sederhana tapi Jujur
Kekuatan
terbesar buku ini ada pada kejelasan pesannya. Irfan tidak mencoba menjadi
filsuf atau psikolog. Ia berbicara seperti teman yang pernah jatuh dan berhasil
berdiri lagi — sederhana, apa adanya, dan tidak berlebihan.
Tema
positivity yang diangkat terasa membumi karena tidak menghindari realita. Buku
ini tidak berkata "hapus semua pikiran negatif" karena itu mustahil.
Sebaliknya, ia mengajarkan bahwa pikiran positif adalah pilihan aktif yang
harus dilatih setiap hari, bukan kondisi yang datang sendiri.
Yang saya suka: buku ini
tidak toxic positivity. Ia tidak meminta pembaca untuk pura-pura baik-baik
saja. Ia meminta pembaca untuk tetap bergerak meski tidak baik-baik saja.
Untuk
genre motivasi ringan, pesan ini disampaikan dengan tepat dan tidak berlebihan.
Cocok sekali sebagai bacaan pertama di genre self-help.
2. Bagian Favorit Saya — Mendiagnosis Pikiran Negatif
Kalau
ditanya bagian mana yang paling berkesan, jawabannya jelas: Bagian Kedua
tentang Mendiagnosis Pikiran Negatif. Ini yang menurut saya jadi nyawa dari
seluruh buku.
Di
sini Irfan membahas lima bentuk pikiran negatif yang paling sering kita alami:
khawatir, ragu, pesimis, gelisah, dan mengeluh. Yang menarik, ia tidak langsung
menyuruh kita untuk berhenti melakukannya. Ia justru mengajak kita untuk
mengenali dulu — karena kamu tidak bisa menyembuhkan sesuatu yang belum kamu
akui keberadaannya.
Bagian
ini terasa seperti cermin. Saya membacanya dan sadar bahwa selama ini saya
sering menyamarkan kekhawatiran sebagai "kehati-hatian" dan keraguan
sebagai "pertimbangan matang". Padahal di dalam, itu tetap pikiran
negatif yang pelan-pelan menggerus semangat.
Lima diagnosis ini —
khawatir, ragu, pesimis, gelisah, mengeluh — dibahas satu per satu dengan
sangat relatable. Tidak terasa seperti membaca buku teori, tapi seperti ngobrol
dengan seseorang yang benar-benar paham apa yang kamu rasakan.
Jika
kamu hanya punya waktu untuk membaca satu bagian dari buku ini, baca bagian
kedua ini. Sisanya akan terasa jauh lebih masuk akal setelah kamu paham dari
mana akar masalahnya.
3. Gaya Penulisan — Ringan, Mudah Dicerna
Irfan
Suryana menulis dengan bahasa yang sangat accessible. Tidak ada jargon
psikologi yang rumit, tidak ada teori berat yang memerlukan pemahaman khusus.
Kalimatnya pendek, langsung ke poin, dan sering menggunakan pertanyaan retoris
yang mengajak pembaca untuk merenung.
Dengan
176 halaman, buku ini bisa habis dalam satu atau dua sesi duduk. Ini nilai plus
untuk pembaca yang belum terbiasa membaca buku non-fiksi — tidak terasa berat,
tidak membosankan.
Tapi justru di sinilah
satu kelemahannya: karena terlalu ringan, pembaca yang sudah sering membaca
self-help seperti The Subtle Art of Not Giving a F*ck atau Atomic Habits
mungkin merasa kurang ada insight baru yang menggigit.
Buku
ini bukan untuk mereka yang ingin pendalaman. Ini untuk mereka yang baru mulai,
atau yang sedang butuh pengingat cepat di tengah hari yang berat.
4. Relevansi dan Dampak — Tepat Sasaran untuk Audiensnya
Satu
hal yang benar-benar berhasil dari buku ini adalah relevansinya dengan
kehidupan sehari-hari orang Indonesia. Contoh-contoh yang dipakai — nilai
ujian, dipecat, patah hati, usaha bangkrut — adalah situasi yang sangat
familiar. Tidak terasa seperti buku terjemahan yang konteksnya tidak nyambung
dengan realita lokal.
Buku
ini terasa seperti didesain untuk generasi muda Indonesia yang sedang berjuang:
mahasiswa yang merasa tidak cukup baik, fresh graduate yang belum dapat kerja,
atau siapapun yang sedang di titik terendah dan butuh suntikan semangat yang
tidak menggurui.
Jika
dibaca di waktu yang tepat — saat sedang down dan butuh pengingat bahwa kamu
bisa bangkit — buku ini bisa terasa sangat powerful. Dampaknya memang
bergantung pada kondisi pembacanya.
Secara keseluruhan, Be Happy! Be Positive! adalah buku motivasi yang jujur, membumi, dan tepat sasaran. Irfan Suryana tidak mencoba terlalu keras untuk terlihat inspiratif — dan justru itulah yang membuat buku ini terasa otentik. Ini bukan buku yang akan mengubah cara pandangmu secara revolusioner, tapi ia bisa menjadi teman yang baik di hari-hari yang terasa berat.
Cocok untuk kamu yang:
• Baru mulai membaca buku self-help
dan butuh pintu masuk yang ramah
• Sedang di titik rendah dan butuh
pengingat bahwa pikiran positif adalah pilihan
• Ingin bacaan ringan yang bisa
habis dalam sekali duduk
• Menyukai gaya penulisan yang santai dan tidak menggurui
Mungkin kurang cocok jika kamu:
• Sudah banyak membaca self-help
dan mencari insight yang lebih dalam atau berbasis riset
• Mengharapkan framework atau
metode praktis yang bisa langsung diterapkan step-by-step
• Ingin bacaan yang lebih panjang
dan mendalam
Meskipun buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia, judulnya sendiri mengandung kalimat berbahasa Inggris yang menarik untuk kita bedah. Sekaligus, ini saat yang tepat untuk belajar beberapa frasa bahasa Inggris seputar positivity yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari!
Frasa 1:
"Be happy" vs
"Choose to be happy"
Perbedaannya
halus tapi penting. "Be happy" adalah perintah yang pasif — seolah
kebahagiaan datang sendiri. "Choose to be happy" menegaskan bahwa
kebahagiaan adalah pilihan aktif. Ini persis inti pesan buku Irfan Suryana!
Pelajaran bahasa: kata kerja "choose" + infinitive (to + verb) menunjukkan keputusan yang disengaja. Contoh: "Choose to see the good in every situation."
Frasa 2:
"Every setback is a
setup for a comeback."
Artinya:
Setiap kemunduran adalah persiapan untuk kebangkitan. Kalimat ini sangat
populer di dunia motivasi berbahasa Inggris dan sangat selaras dengan tema buku
ini.
Pelajaran bahasa: perhatikan permainan kata "setback" dan "comeback" — keduanya sama-sama menggunakan kata "back" tapi dengan makna berlawanan. Ini disebut wordplay atau pun dalam bahasa Inggris.
Frasa 3:
"Positive thinking is
not about expecting the best to happen. It's about accepting that whatever
happens is for the best."
Artinya:
Berpikir positif bukan soal mengharapkan hal terbaik terjadi. Ini soal menerima
bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik.
Pelajaran bahasa: pola "not
about... it's about..." adalah struktur kontras yang sangat elegan dalam
bahasa Inggris untuk meluruskan kesalahpahaman. Bisa dipakai untuk menulis
opini atau argumen.
Buat
saya, bagian tentang mendiagnosis pikiran negatif di Bagian Kedua adalah alasan
utama kenapa buku ini layak dibaca. Lima hal — khawatir, ragu, pesimis,
gelisah, mengeluh — terdengar sederhana, tapi jarang ada buku yang membahasnya
sejujur dan serelatable ini. Kalau kamu beli buku ini dan hanya sempat baca
satu bagian, baca itu.
Kalau
kamu sedang butuh pengingat bahwa kamu punya kendali atas cara kamu merespons
hidup, buku ini layak jadi pilihan. Dan dengan 176 halaman, tidak ada alasan
untuk tidak mencobanya.
Yuk, diskusi bareng!
Sudah
pernah baca buku Be Happy! Be Positive! ini? Setuju nggak sama pendapat saya?
Atau punya rekomendasi buku self-help lain yang menurut kamu lebih powerful?
Tulis di kolom komentar — saya baca semua komentar kalian!
Dan
kalau artikel ini bermanfaat, jangan lupa share ke teman yang lagi butuh
suntikan semangat hari ini. Siapa tahu tulisan ini jadi hal positif pertama
yang mereka baca pagi ini.

Posting Komentar